Posted on January 25th, 2013 at 2:10 PM by Zainal M Ahmad

 
Gampang ya sekarang untuk bisa menjadi seorang penyiar radio. Tidak punya suara bagus dan ngebas? tidak usah kuatir. Sekarang ini sejalan dengan perkembangan sosial dan budaya masyarakat modern, syarat punya kualitas suara bagus (bulat, ngebas, artikulasi baik, intonasi-irama turun naiknya suara-oke, sepertinya sudah tidak penting lagi. Tengoklah radio-radio hiburan sekarang (yang sebagian programnya adalah musik). Penyiar dengan suara ngebas buat mereka hanya ada di jaman jadul.

Penyiar-penyiar yang bersuara ngebas, mengatur irama suara banget, artikulasinya juga hati-hati sudah ditinggalkan rata-rata radio hiburan.  Suara yang tidak bulat alias cempreng saja bisa siaran di radio-radio tersebut, asal bisa ngebanyol, sedikit konyol dan ngocol sudah bisa cuap-cuap. Apalagi kalau anda seorang selebritis alias seleb dan ditambah tempelan title pelawak atau setengah pelawak, maka dengan mudah suara anda akan terdengar paling tidak seantero daerah anda. Soal tampang dan penampilan juga tidak penting, anda bisa siaran sambil sarungan di studio, tidak perlu make up tebel-tebel amat. karena yang ditampilkan adalah suara anda, bukan fisik anda seperti di televisi.

Soal wawasan, nalar, tehnik berkomunikasi oral yang baik, peguasaan istilah dan bahasa Indonesia yang baik, pengetahuan soal jurnalistik radio dan jurnalistik secara umum, tahu kode etik jurnalistik, kemampuan tehnik wawancara yang oke, semuanya menjadi nomor kesekian. syukur-syukur kalau punya kemampuan seperti itu, kalau tidak ya sudah, yang penting bisa ngocol dan ngebanyol.

Berbeda memang dengan radio-radio yang fokus ke berita atau setengah fokus ke berita, atau paling tidak masih menempatkan berita, informasi, dan wawancara 30-40 persen dari program siarannya, syarat-sayarat memiliki suara dewasa (midle bas-midle treble) masih menjadi syarat penting. Selain harus memiliki wawasan yang luas dan nalar yang baik serta tehnik wawancara yang mumpuni.

Maklumlah, target audiens antara radio berjenis kelamin hiburan dengan yang berjenis kelamin berita atau setengah berita memang berbeda. Radio hiburan memiliki target audiens anak-anak muda yang mudah bosen, pusing dan mungkin bisa muntah kalau denger siaran radio berita. pendengarnya mayoritas adalah kaum sepuh dan setengah sepuh. Entah yang berfrofesi sebagai sopir, karyawan biasa, ibu rumah tangga, anggota DPR, atau pejabat pemerintah, judulnya tetap saja “kaum sepuh dan setengah sepuh”. Entahlah kalau kaum sepuh berangsur-angsur terkikis karena dipanggil tuhan pulang atau kaum setengah sepuh berangsur menuju sepuh, berapa persen pendengar radio ini berkurang. Solusinya memperkenalkan program radio ini kekalangan anak-anak muda seperti kalangan kampus yang akan menjadi pengganti pendengar kaum sepuh dan setengah sepuh tersebut yang harus lebih digencarkan.

Intinya menjadi seorang penyiar radio secara umum sebenarnya gampang, asal ada kemauan dan memiliki kompetensi dasar yang akan menjadi pondasi untuk pengembangan diri untuk menjadi seorang penyiar profesional.