Posted on April 15th, 2014 at 1:50 PM by Zainal M Ahmad

WOR #6

Posted on February 6th, 2013 at 11:15 AM by Zainal M Ahmad

Penyiar…penyiar..

Saat mendengar kata ini, sebagian besar orang akan merasa tertarik. Pekerjaan sebagai orang yang tugas nya bercuap cuap didepan mikrofon atau kamera televisi ini merupakan dambaan bagi sebagian besar masyarakat, terutama yang masih berusia muda.

Mengapa ? sebagian orang menilai pekerjaan ini penuh dengan tantangan, sebagian menganggap pekerjaan ini mudah untuk dilakukan, sebagian lagi menganggap, pekerjaan ini dekat dengan selebriti, salah satu cara menggapai ketenaran, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Pada saat pertama kali ditanya kan pada orang yang melamar sebagai penyiar, ada  yang sekedar ingin tahu, menambah pengalaman, dan ingin mendalami dunia broadcasting, serta memperluas pergaulan.

Dengan berkembang pesatnya dunia penyiaran di indonesia dan semakin banyaknya jumlah stasiun televisi atau radio, tentu membutuhkan pula sumber daya manusia yang lebih banyak. Tidak hanya  untuk menjadi pemain sinetron, penyanyi, presenter, tetapi juga sebagai programmer, creative, penulis naskah, sutradara, dan lain lain. Memang, pekerjaan untuk tampil di depan layar kaca televisi dan di depan mikrofon lebih menarik banyak orang, karena lebih mudah untuk kelihatan, dan tentunya lebih mudah membuat seseorang untuk dikenal.

Pertanyaan berikutnya yang akan muncul, biasanya setelah menjadi penyiar, adalah, apakah profesi ini dapat dijadikan sumber penghidupan ? bagaimana jenjang kariernya ?. walaupun pertanyaan ini banyak muncul setelah menjadi penyiar, tidak ada salahnya diceritakan pada anda. Tujuannya adalah, agar anda bisa memiliki gambaran, seperti apa  kehidupan penyiar yang sebenarnya.

Hampir semua radio di Indonesia membayar penyiarnya secara per jam siaran. Tarifnya untuk saat ini berkisar pada sepuluh ribu sampai seratus ribu rupiah per jam. Seorang penyiar biasanya siaran 2 sampai 4 jam sehari, selama 5 sampai 7 hari seminggu.

Dengan informasi ini anda dapat menghitung berapa pendapatan seorang penyiar. Memang akan ada pemasukan lainnya seperti dari voice over atau mengisi suara untuk iklan, tambahan uang makan atau transpor, tetapi itu sangat tergantung pada radio tempat anda siaran. Sebagian kecil radio ada yang membayar penyiarnya secara bulanan, atau dianggap sebagai pegawai tetap. Dengan status seperti ini, penghasilan seorang penyiar lebih pasti, dan tidak tertutup pula tetap mendapatkan penghasilan tambahan dari pekerjaan sampingan lainnya.

Dari hitungan tersebut, pendapatan seorang penyiar menjadi relatif biasa saja, tidak memungkinkan seorang  penyiar langsung menjadi kaya. Bahkan sebagian besar penyiar mengatakan bahwa, pendapatan mereka kecil. Lalu mengapa tetap saja banyak orang yang ingin menjadi penyiar ? dan bahkan sangat sedikit yang akhirnya berhenti siaran ? karena, ternyata, pendapatan seorang penyiar tidak hanya dari kegiatannya siaran saja, tetapi melalui berbagai pekerjaan sampingan lainnya, seperti menjadi pembawa acara atau MC, pembicara dalam pelatihan, dan lain sebagainya.

Tak jarang, dengan menjadi penyiar, kesempatan untuk meningkatkan karir di dunia broadcasting mejadi lebih terbuka. Tergantung bagaimana anda menanggapi kesempatan dan peluang yang ada. Dengan menjadi penyiar, pergaulan juga akan semakin luas, karena akan banyak berhubungan dengan orang-orang dari dunia entertainment, sekolah, kampus, production house, event organizer, dan lain lain.

Jenjang karir seorang penyiar sangat luas. Selain pada akhirnya hijrah ke stasiun televisi untuk mendapat penghasilan tetap yang lebih besar, penyiar dapat pula berkarir tetap pada stasiun radio tempatnya bekerja. Masih banyak bidang lainnya seperti musik, redaksi, produksi, program, serta marketing yang dapat menjadi  jabatan baru seorang penyiar. Hal ini biasa terjadi apabila usia penyiar tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan karakter radio, atau memang diperlukan orang baru dalam struktur manajemen.

Dalam radio yang memiliki jaringan atau grup, karir dalam manajemen radio menjadi lebih luas lagi, karena masih memungkinkan seseorang yang tadinya menjadi penyiar untuk diangkan menjadi pimpinan radio di salah satu cabangnya, bahkan sampai pada pimpinan grup tersebut.

Sampai saat ini, saya rasa sedikit  hal yang sering ditanyakan oleh kebanyakan calon penyiar terjawab, mudah-mudahan tulisan ini dapat menjawab rasa keingin tahuan anda terhadap profesi penyiar.

DSC01089

Posted on February 5th, 2013 at 11:42 AM by Zainal M Ahmad

Sejarah Perkembangan Radio

Radio adalah salah satu jenis media massa satu arah yang berperan untuk menyampaikan pesan (berita, informasi dan hiburan) kepada masyarakat dengan jangkauan luas. Radio telah menjalani proses perkembangan yang cukup lama sebelum menjadi media komunikasi massa seperti saat ini. Berkat ketekunan tiga orang cendikiawan, diantaranya seorang ahli teori ilmu alam yang bernama James Maxwell berhasil menemukan rumus yang diduga dapat mewujudkan gelombang elektromagnetis, yaitu gelombang yang digunakan untuk kgelombang radio dan televisi (1865). Berdasarkan teorinya bahwa gerakan magnetis dapat mengarungi ruang angkasa dengan kecepatan hampir sama dengan kecepatan cahaya (186.000 mil/detik). Teori Maxwell ini dibuktikan oleh Heinrich Hertz pada tahun 1884. Tetapi baru digunakan untuk tujuan praktis oleh Guglemo Marconi, dimana Marconi telah dapat mengirimkan tanda-tanda tanpa kawat melintasi samudra Atlantik.

Perkembangan radio sebagai media massa lalu berkembang dibeberapa negara. Diawali di Amerika Serikat (AS) dengan pengembangan penemuan Marcono oleh Dr. Lee De Forest pada tahun 1906, karena itu pula ia dijuluku “The Father of radio”. Sejak saat itu radio di AS mulai mengalami perkembangan yang pesat. Pada bulan Maret 1923 telah berdiri 556 stasiun radio. Baru pada tahun 1926 berdirilah NBC (National Broadcasting Radio) sebagai badan siaran radio yang luas dan besar, lalu muncul pesaingnya yaitu CBS (Columbia Broadcast System).

Sejak saat itu juga radio terus berkembang dibeberapa negara seperti Inggris, Perancis, Uni Sovyet, Jepang dan RRC. Selain mengalami perkembangan, radio juga telah memasuki tahap penyempurnaan. Prof. E H Amstrong dari Universitas Columbia pada tahun 1933 memperkenalkan sistem Frequency Modulation (FM) sebagai penyempurnaan dari Amplitudo Modulation (AM). Keutungan FM dari AM, antara lain:

Dapat dihilangkan interference (gangguan/percampuran) karena cuaca.

Dapat menghilangkan interference yang disebabkan dua stasiun radio  yang bekerja pada gelombang yang sama.

Dama menyiarkan suara sebaik-baiknya.

Diantara media yang ada seperti televisi dan media cetak, radio memiliki beberapa keunggulan dimana dapat diakses secara mudah, tidak diperlukan ketrampilan khusus dari khalayak yang ingin dituju seperti ketrampilan membaca karena radio merupakan media imajinatif. Selain itu masyarakat dapat mendapatkan informasi dengan cepat dari radio dengan biaya murah.  Keunggulan lain dari radio adalah sifatnya yang santai, karena sifatnya auditori (untuk didengarkan), lebih mudah orang menyampaikan pesan dalam bentuk acara yang menarik. Dalam hal ini musik memegang peranan yang sangat penting karena pesan disampaikan diantara musik.

Adapun kekurangan dari media massa ini adalah tidak bisa dilihat sehingga merupakan media sekilas/selintas (hanya sekali didengar dan tidak bisa diulang). Selain itu tidak semua hal bisa diinformasikan melalui radio dan karena sifatnya yang satu arah maka tidak teridentifikasi siapa yang mendapatkan atau menerima info atau pesan yang disampaikan.

Dengan kekurangan dan kelebihannya, radio telah menjadi media massa yang dapat diandalkan, cukup efektif dalam penyampaian pesan, dan tetap diminati walau banyak media lain. Seiring perkembangan waktu, jumlah pendengar radio terus bertambah dan radio terus bertahan menghadapi perkembangan zaman.

 Jenis Radio

Ada beberapa jenis radio di Indonesia diantaranya adalah:

  1. Radio publik / pemerintah, badan radio ini dimiliki dan dikuasai secara tegas oleh pemerintah yang pengelolaannya diserahkan kepada salah satu departemen. Pemerintah Indonesia misalnya, menempatkan RRI pada Departemen Penerangan. RRI dikukuhkan dengan SK Menteri Penerangan RI No.19 tahun 1968. Karena dimiliki dan dikuasi pemerintah, maka radio siaran pemerintah melakukan operasinya dengan menyandang misi pemerintah. Biayanya pun termasuk anggaran belanja pemerintah. Perbedaan RRI dari radio siaran pemerintah pada umumnya, adalah bahwa RRI mencari sumber biaya dari periklanan. Meskipun begitu, pelaksanaannya tetap dibatasi dengan ketentuan yang berlaku dalam hal aktivitas dan penggunaan hasil.
  2. Radio Swasta, badan radio ini dimiliki peorangan dan sifatnya komersil. Dengan lisensi pemerintah, biaya untuk kelangsungan hidupnya diperoleh dari periklanan dan pensponsoran acara (sponsored program). Di Amerika Serikat radio siaran swasta mempunyai jaringan yang luas, seperti NBC, CNS, ABC dan MBS. sesuai dengan sistem pemerintahan Amerika Serikat, badan radio siaran tersebut mempunyai kebebasan sepenuhnya dalam arti kata tidak mengenal sensor. Ini tidak  berarti bahwa para pengelolanya tidak mengenal tanggung jawab nasoinal dan sosial. Tanggung jawab mereka adalah pada kesadaran sendiri dan hati nurani sendiri yang dengan sendirinya bertanggung jawab secara nasional dan sosial.
  3. Radio Komunitas,  Radio Komunitas merupakan salah satu media komunikasi massa yang bersifat audio, Istilah radio komunitas sendiri adalah radio yang dibangun secara gotong royong oleh warga suatu komunitas dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia di daerah tersebut. Peralatan radio yang digunakan dalam model radio ini cenderung sederhana dan tidak mahal, ini terkait dengan jangkauan siarannya yang masih terbatas pada wilayah mereka sendiri (Masduki, 2003). Radio komunitas dimiliki, dikelola, diperuntukkan, diinisiatifkan dan didirikan oleh sebuah komunitas. Pelaksana penyiaran (seperti radio) komunitas disebut sebagai lembaga penyiaran komunitas. Radio komunitas juga sering disebut sebagai radio sosial, radio pendidikan, atau radio alternatif. Intinya, radio komunitas adalah “dari, oleh, untuk dan tentang komunitas”. Radio komunitas di Indonesia mulai berkembang pada tahun 2000. Radio komunitas merupakan buah dari reformasi politik tahun 1998 yang ditandai dengan dibubarkannya Departemen Penerangan sebagai otoritas tunggal pengendali media di tangan pemerintah. Keberadaan radio komunitas di Indonesia menjadi makin kuat setelah disahkannya Undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.
  4. Radio Berlangganan. Lembaga Penyiaran Berlangganan merupakan lembaga penyiaran berbentuk badan hukum Indonesia, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran berlangganan dan wajib terlebih dahulu memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran berlangganan.  Lembaga Penyiaran Berlangganan memancarluaskan atau menyalurkan materi siarannya secara khusus kepada pelanggan melalui radio, televisi, multi-media, atau media informasi lainnya.

Lembaga Penyiaran Berlangganan terdiri atas:

Lembaga Penyiaran Berlangganan melalui satelit;

Lembaga Penyiaran Berlangganan melalui kabel; dan

Lembaga Penyiaran Berlangganan melalui terestrial.

Dalam menyelenggarakan siarannya, Lembaga Penyiaran Ber-langganan harus melakukan sensor internal terhadap semua isi siaran yang akan disiarkan dan/atau disalurkan. Selain itu lembaga tersebut juga harus menyediakan paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dari kapasitas kanal saluran untuk menyalurkan program dari Lembaga Penyiaran Publik dan Lembaga Penyiaran Swasta. Dan yang terakhir, lembaga penyiaran berlangganan harus menyediakan 1 (satu) kanal saluran siaran produksi dalam negeri berbanding 10 (sepuluh) siaran produksi luar negeri paling sedikit 1 (satu) kanal saluran siaran produksi dalam negeri. Sumber pembiayaan Lembaga Penyiaran Berlangganan berasal dari iuran berlangganan dari usaha lain yang sah dan terkait dengan penyelenggaraan penyiaran.

Posted on January 25th, 2013 at 2:10 PM by Zainal M Ahmad

 
Gampang ya sekarang untuk bisa menjadi seorang penyiar radio. Tidak punya suara bagus dan ngebas? tidak usah kuatir. Sekarang ini sejalan dengan perkembangan sosial dan budaya masyarakat modern, syarat punya kualitas suara bagus (bulat, ngebas, artikulasi baik, intonasi-irama turun naiknya suara-oke, sepertinya sudah tidak penting lagi. Tengoklah radio-radio hiburan sekarang (yang sebagian programnya adalah musik). Penyiar dengan suara ngebas buat mereka hanya ada di jaman jadul.

Penyiar-penyiar yang bersuara ngebas, mengatur irama suara banget, artikulasinya juga hati-hati sudah ditinggalkan rata-rata radio hiburan.  Suara yang tidak bulat alias cempreng saja bisa siaran di radio-radio tersebut, asal bisa ngebanyol, sedikit konyol dan ngocol sudah bisa cuap-cuap. Apalagi kalau anda seorang selebritis alias seleb dan ditambah tempelan title pelawak atau setengah pelawak, maka dengan mudah suara anda akan terdengar paling tidak seantero daerah anda. Soal tampang dan penampilan juga tidak penting, anda bisa siaran sambil sarungan di studio, tidak perlu make up tebel-tebel amat. karena yang ditampilkan adalah suara anda, bukan fisik anda seperti di televisi.

Soal wawasan, nalar, tehnik berkomunikasi oral yang baik, peguasaan istilah dan bahasa Indonesia yang baik, pengetahuan soal jurnalistik radio dan jurnalistik secara umum, tahu kode etik jurnalistik, kemampuan tehnik wawancara yang oke, semuanya menjadi nomor kesekian. syukur-syukur kalau punya kemampuan seperti itu, kalau tidak ya sudah, yang penting bisa ngocol dan ngebanyol.

Berbeda memang dengan radio-radio yang fokus ke berita atau setengah fokus ke berita, atau paling tidak masih menempatkan berita, informasi, dan wawancara 30-40 persen dari program siarannya, syarat-sayarat memiliki suara dewasa (midle bas-midle treble) masih menjadi syarat penting. Selain harus memiliki wawasan yang luas dan nalar yang baik serta tehnik wawancara yang mumpuni.

Maklumlah, target audiens antara radio berjenis kelamin hiburan dengan yang berjenis kelamin berita atau setengah berita memang berbeda. Radio hiburan memiliki target audiens anak-anak muda yang mudah bosen, pusing dan mungkin bisa muntah kalau denger siaran radio berita. pendengarnya mayoritas adalah kaum sepuh dan setengah sepuh. Entah yang berfrofesi sebagai sopir, karyawan biasa, ibu rumah tangga, anggota DPR, atau pejabat pemerintah, judulnya tetap saja “kaum sepuh dan setengah sepuh”. Entahlah kalau kaum sepuh berangsur-angsur terkikis karena dipanggil tuhan pulang atau kaum setengah sepuh berangsur menuju sepuh, berapa persen pendengar radio ini berkurang. Solusinya memperkenalkan program radio ini kekalangan anak-anak muda seperti kalangan kampus yang akan menjadi pengganti pendengar kaum sepuh dan setengah sepuh tersebut yang harus lebih digencarkan.

Intinya menjadi seorang penyiar radio secara umum sebenarnya gampang, asal ada kemauan dan memiliki kompetensi dasar yang akan menjadi pondasi untuk pengembangan diri untuk menjadi seorang penyiar profesional.